Jumat, 17 Mei 2013

Alquran, sain fdan alam semesta


Al-Qur’an selalu merujuk kepada (banyak) alam semesta atau ‘alamin, di mana sains saat ini baru menghasilkan satu hipotesis dan model tentang multiple universes. Seruan al-Qur’an tentang kebenaran sangat universal – timeless and spaceless – dialamatkan kepada seluruh manusia dan golongan jin. Kadang-kadang al-Qur’an menyebutkan makhluk yang ada di (banyak) bumi dan di (banyak) langit-yang bermakna segenap makhluk yang telah diketahui maupun yang belum diketahui. Barangkali ia adalah satu-satunya kitab suci yang seruannya ditujukan kepada manusia dan makhluk alam gaib (jin). Kritikus al-Qur’an mengatakan, “Mengapa tidak sekalian saja dialamatkan kepada iblis, atau evil?” Kritikus itu lupa atau tidak mengetahui bahwa iblis dan setan adalah salah satu ras dari golongan jin.

Al-Qur’an adalah Kebijakan Abadi

Setiap ayat, bahkan jumlah ayat atau kata, dan nama surat merupakan kebijakan abadi. Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan manusia yang membacanya.
Kita lihat, misalnya, salah satu ayat dari Surat ar-Rahman, yang membahas tentang air;
“Dia membiarkan kedua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”. (Qs Ar-Rahman : 19-20)
Sedikit penafsir yang mengartikan ini adalah tanah genting yang tidak terlihat. Penafsir lainnya menyebutkan bahwa air tawar di sungai dan air asin di lautan bertemu namun tidak saling melampaui karena perbedaan kepekatannya. Sampai di sini terjemahan belum bermasalah. Keterangan lebih lanjut:
Fenomena menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar, ditemukan bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang berbeda menghasilkan “dam” yang tidak terlihat. Air Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.
Melanjutkan QS. Ar Rahman 19-20 diatas tadi, berikutnya adalah fenomena menarik tentang pembentukan mutiara.
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (Qs Ar-Rahman : 22)
Para penerjemah dua puluh tahun yang lalu, dengan satu atau dua pengecualian, menerjemahkan “marjan” dengan “batu koral”. Padahal mayoritas ahli tafsir mengartikan dengan marjan, yang mengandung mutiara kecil yang lebih berkilau. Tetapi ahli tafsir modern, misalnya Sayyid Quthb, berbicara tentang “batu koral”. Disadari bahwa banyak ahli tafsir yang menghadapi persoalan dengan ayat ini. Menurut pengetahuan mereka pada waktu itu, mutiara hanya datang dari air laut. Padahal ayat ini barangkali menjelaskan bahwa mutiara bisa terbentuk baik di dalam air laut maupun air tawar. Bagaimana bisa? Abu Ubaidah, seorang penulis terdahulu, sangat yakin bahwa mutiara hanya datang dari air laut, sehingga ia mencoba berkelit untuk menafsirkan ayat tersebut dengan sesuatu yang lain. Maka ia menulis, “Mutiara hanya datang dari salah satu nya”.
Tetapi kini telah diketahui bahwa mutiara bisa terbentuk di dalam air tawar. Encyclopedia Britannica, Micropaedia 1977, menulis bahwa di sungai-sungai rimba Bavaria (Eropa) mutiara dibudidayakan. Bahkan budidaya mutiara air tawar di Cina telah dikenal sejak sebelum tahun 1000 SM.
Dengan demikian, pernyataan al-Qur’an dalam surat ini sesuai dengan arti harfiahnya, tanpa memerlukan penafsiran yang dipaksakan.
Apakah pembaca akan berhenti sampai di sini?
Kita beralih ke ayat al-Qur’an yang pembahasannya memerlukan pengetahuan astrofisika, gabungan astronomi, fisika dan matematika, yaitu Surat an-Nur atau yang berarti cahaya.
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs An-Nur : 35).
Esensi ayat ini adalah bahwa Tuhan adalah (satu-satunya) pemberi cahaya di alam semesta tanpa sentuhan api. Namun menyangkut perumpamaan, mufasir klasik menghadapi kesulitan untuk menjelaskan lebih rinci.
Dengan beberapa pengecualian mereka akan menjelaskan bahwa misykat , atau suatu lubang yang tidak dapat ditembus, adalah lubang di rumah-rumah untuk tempat lampu obor, yang ada di dinding rumah. Sedangkan pohon (zaitun) yang dimaksud adalah pohon (zaitun) yang tumbuh di bukit-bukit, sehingga sinar matahari dapat menyinari, baik pada saat matahari terbit maupun matahari terbenam.
Mufasir modern, seperti Malik Ben Nabi, menjelaskan bahwa misykat adalah lampu bohlam:
Pohon yang dimaksud adalah kawat wolfram yang berpijar karena efek listrik tanpa disentuh api, dibungkus gelas kaca, untuk memantulkan seluruh sinarnya ke segala arah sehingga dapat menerangi seluruh ruangan. Lampu bohlam adalah sekat yang tak dapat ditembus, karena hampa udara, tidak ada oksigen di sana.
Tetapi, dalam studi yang lebih mendalam tentang cahaya di langit oleh para astrofisikawan, misalnya Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything, perumpamaan ayat tersebut lebih mendekati kepada fenomena quasar dan gravitasi efek lensa yang menghasilkan cahaya di atas cahaya. Quasar atau Quasi Stellar adalah objek di langit yang ditemukan pertama kalinya pada tahun 1963. Mereka mewakili objek yang paling terang di alam semesta, jauh lebih terang dari cahaya matahari atau bintang. Para astronom menemukan bahwa objek “seperti bintang’ ini terletak miliaran tahun cahaya dari bumi. Objek ini tentunya mempunyai energi yang besarnya sangat luar biasa supaya tetap terlihat dari sini. Energi mereka berasal dari “pusat lubang hitam yang sangat masif”. Karakter pertama dari ayat ini yaitu misykat adalah “lubang hitam”, sedangkan karakter kedua yaitu “pelita dalam kaca” adalah galaksi yang menghasilkan efek gravitasi lensa seperti quasar (pelita) yang terbungkus oleh kaca (gelas). Coba simak keterangan quasar oleh astronom NASA.
“Efek gravitasi pada galaksi, quasar yang jauh, serupa dengan efek lensa sebuah gelas minum yang memantulkan sinar lampu jalan yang menciptakan berbagai image (lapisan cahaya atas cahaya)”
Energi quasar yang berasal (dicatu) dari lubang hitam, terjadi ketika “bintang-bintang dan gas” dari galaksi terhisap di dalamnya. Karakter lainnya yang disebut “pohon” oleh al-Qur’an adalah sebutan yang tidak lazim oleh para astronom yang menggambarkan galaksi sebagai “pohon-pohon” yang terdiri dari bintang-bintang. Lihat saja istilah diagram Hertzprung�Russel, dalam buku Timothy Ferris, The Whole Shebang, 1997.
Barangkali, karakter lainnya yang menarik dari ayat di atas adalah pernyataan “diterangi tanpa tersentuh oleh api”, suatu fenomena fusi nuklir yang menghasilkan cahaya yang sangat terang, di mana di ruang angkasa nyaris tidak ada oksigen untuk pembakaran. Bintang-bintang memulai hidupnya dengan unsur kimia yang paling ringan, yakni hidrogen. Gas berkontraksi, karena gravitasi, memanas; atom hidrogen bertumbukan dan membentuk helium, unsur yang lebih berat, ketika mengeluarkan energinya. Energi inilah yang membuat objek “bintang- bintang” bersinar tanpa “disentuh api’, energi ini juga yang memelihara keseimbangan posisi bintang-bintang di alam semesta. Sepanjang pengetahuan manusia yang ada sekarang, fenomena quasar inilah yang paling tepat untuk menggambarkan ayat di atas. Terlebih lagi perumpamaan dalam ayat tersebut: “seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara”. Bahkan aslinya lebih terang dari sinar bintang, dan memang seperti “mutiara” bila kita lihat dari foto-foto NASA yang ada, gemerlapan, sangat menawan.
Dengan demikian, terjemahan bebas ayat 35 Surat an-Nur dari sisi sains adalah:
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang (hitam) yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (quasar). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca (efek gravitasi lensa dari galaksi) itu seakan- akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon (galaksi yang dicatu oleh lubang hitam) yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon (galaksi) yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (fusi nuklir) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (efek gravitasi lensa), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Antisipasi ke Depan atau Catatan Sebelumnya

Al-Qur’an dalam pengajarannya bukan saja dengan kalimat (teks) tetapi juga dengan hitungan, hitungan yang membahas berbagai hal. Perbandingan luas lautan dengan daratan, kecepatan cahaya, dan umur alam semesta: berdasarkan informasi-informasi yang disajikan oleh ayat-ayat al-Qur’an. Bila al-Qur’an seolah-olah mengantisipasi ke masa depan, itu adalah semata-mata perspektif manusia. Sebab dalam pandangan al-Qur’an, semua kejadian di bumi, sesungguhnya telah tercatat dengan baik di dalam Kitab Utama, Pusat Arsip, atau Lauh Mahfuzh, sebelum kejadian tersebut berlangsung.
Umur Alam Semesta
Secara ringkas, umur elemen kimia dapat diperkirakan berdasarkan uji radio aktif terhadap atom tersebut. Dan umumnya dapat ditentukan dengan menggunakan uji contoh batu-batuan, yaitu dengan mengukur perubahan elemen berat seperti Rubidium Rb-87. Bila uji Rubidium ini diterapkan atas batuan yang tertua di bumi akan didapatkan bahwa batuan tertua berumur 3,8 miliar tahun. Jika diterapkan atas batuan tertua dari meteor akan didapatkan angka 4,56 miliar tahun. Kesimpulan ini membuktikan bahwa tata surya kita berumur sekitar 4,6 miliar tahun, dengan tingkat kesalahan 100 juta tahun. Sedikit berbeda, bila metode ini digunakan untuk mengukur gas di alam semesta maka akan menyebabkan tingkat variasi yang lebih lebar. Ilmuwan cukup puas mengetahui umur alam semesta sejak Dentuman Besar dengan perhitungan elemen kimia yaitu antara 11-18 miliar tahun.
Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun. Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun.
Dalam al-Qur’an ada dua ayat yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu, yaitu Surat as-Sajdah (32:5) dan al-Ma’arij (70:4).
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (Qs Al-Ma’arij : 4)
Kita dapat mencatat bahwa al-Qur’an tidak mengatakan “50.000 tahun” waktu bumi. Karena waktu ini adalah waktu relatif di suatu tempat di langit, di mana satu hari sama dengan 1000 tahun waktu bumi. Hari relatif tersebut merupakan umur alam semesta di mana sistem tata surya manusia (kita) berada.
Mari kita konversikan waktu relatif alam semesta:
50.000 x 365,2422 = 18.262.110
Satu hari relatif di “satu tempat” di alam semesta, di tempat malaikat melaporkan urusannya, sama dengan 1000 tahun di bumi:
18.262.110 x 1000 = 18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun.
Dengan demikian, umur alam semesta relatif adalah 18,26 miliar tahun. Hasilnya hampir sama dengan perhitungan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France tersebut di atas.
NASA memperkirakan umur alam semesta antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam semesta kita ini ekspansi setelah terjadinya “Dentuman Besar”
Dr. Marshall Joy dan Dr. John Carlstrom dari Universitas Chicago (tim NASA) telah mampu mengatasi masalah pengukuran kecepatan ekspansi alam semesta dengan teknik terbaru, yaitu menggunakan radio interferometer untuk menyelidiki dan mengukur fluktuasi Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR). Dengan demikian, umur alam semesta dapat diperkirakan. Sedangkan tim NASA lainnya memperkirakan umur alam semesta antara 8-12 miliar tahun berdasarkan pengukuran jarak galaksi “M100″ dengan teleskop ruang angkasa Hubble. Galaksi tersebut diperkirakan berjarak 56 juta tahun cahaya dari bumi. Namun demikian, pengukuran umur alam semesta ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin alam semesta umurnya lebih muda, padahal salah satu bintang di Bima Sakti mungkin umurnya jauh lebih tua dari perkiraan tersebut?
Metonic Cycle
Pembaca telah mendapatkan pengetahuan bahwa kata-kata dalam al-Qur’an mempunyai makna yang bertingkat. Beberapa kata mempunyai arti langsung, tetapi yang lain tidak, atau belum tentu. Misalnya saja, kata yang berarti bulan adalah syahr, dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 12 kali. Ini sesuai dengan 12 bulan dalam 1 tahun. Sedangkan kata yang berarti hari adalah yaum, yang disebutkan 365 kali dalam al-Qui an. Ini juga sesuai bahwa 1 tahun rata-rata sama dengan 365 hari. Tetapi kata yang berarti tahun, yaitu sanah disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 19 kali! Bagaimana kita memahaminya?
Terima kasih kepada cabang pengetahuan astronomi. Angka 19 atau 19 tahun adalah satu periode di mana posisi relatif bumi dan bulan kembali ke posisi semula secara berulang setelah 19 tahun kemudian. Siklus ini ditemukan oleh Meton orang Yunani dan disebut Metonic cycle.
“Jika sekarang tanggal 20 Maret tahun 2000, dan bulan purnama terlihat pada posisi dekat bintang Virgo, kapan kita dapat melihat bulan purnama pada posisi yang sama?”
“Jawabnya bukan bulan depan atau tahun depan, tetapi tanggal 20 Maret tahun 2019, 19 tahun kemudian.”
Mengapa 19 tahun? Karena fase Tahun Matahari dan Tahun Bulan akan bertemu tepat pada siklus yang ke-19, di mana 235 bulan Kalender Bulan tepat sama dengan siklus 19 tahun berdasarkan Kalender Matahari. (29,53 hari x 235 kira-kira sama dengan 365,24 hari x 19). Meton dari Athena pada tahun 440 SM mengetahui bahwa 235 bulan berdasarkan Kalender Bulan sama dengan 19 tahun Kalender Matahari. Oleh karena itu, siklus ini dikenal dengan siklus Meton, dan merupakan basis perhitungan kalender di Yunani sampai Kalender Julius Caesar diperkenalkan pada tahun 46 SM. Bagi kaum Muslim, menggunakan Kalender Bulan karena sesuai dengan kebutuhan untuk perhitungan bulan Ramadhan, bulan Haji, dan peristiwa-peristiwa Islam lainnya. Namun sebelumnya, Kalender Bulan ini dipergunakan juga oleh kaum Yahudi, bangsa Babilonia, dan Cina.
Dengan demikian, jumlah penyebutan kata-kata tertentu dalam al-Qur’an mempunyai, makna yang sangat dalam, dan baru dapat diketahui oleh pembaca jika ia mempunyai pengetahuan dan sains yang cukup luas.
Dengan demikian, jumlah penyebutan kata-kata tertentu dalam al-Qur’an mempunyai makna yang sangat dalam dan baru dapat diketahui oleh pembaca jika ia mempunyai pengetahuan dan sains yang cukup luas.

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).“ (Qs. Al Baqarah : 269)

kaum Tarekat


Hakikat hidup manusia tak lain untuk mencari kebahagiaan di dunia yang bisa dibawa ketika kelak menghadapi kematian. Banyak jalan yang mereka tempuh dalam menempuh kehidupan agar bahagia. Sehingga terkadang mereka tidak menyadari bahwa cara yang ditempuh merugikan dirinya sendiri dan bahkan orang lain. Selain itu pula banyak di antara mereka yang buta terhadap jalan kebahagiaan itu sendiri. Namun ada pula yang melihat, tetapi mereka tidak peduli sehingga kegalauan hidup sering menemani hari-harinya.
Tarekat petani ini akan mengajak pembaca untuk mengarungi eksistensi kebahagiaan yang disajikan oleh dunia tarekat. Tarekat pada intinya ajaran yang mengajarkan untuk hidup bahagia di dunia dan kelak lebih-lebih di akhirat. Intinya sama dengan ritual ajaran keagamaan lainnya. Namun ada perbedaan yang mendasar dalam pelaksanaan pengamalan menuju hidup bahagia versi tarekat ini. Yaitu tindakan untuk melakukan wirid atau dzikir secara terstruktur dan sistematis (Hal. 119).
Intinya tarekat lebih mengedapankan melakukan ritual dzikir dan wiridan guna memantapkan hati kepada yang maha perkasa dan Pemberi berkah yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dunia tarekat bagi pemeluknya yang mengamalkan memberikan kebahagiaan tersendiri. Yang mana mereka selalu melakukan wiridan dan dzikir-dzikir yang sifatnya untuk memantapkan hati mengingat Tuhan. Dengan cara demikian mereka menemukan kedamaian jiwa dan ketenangan hati meski berada dalam garis kehidupan yang minim ekonomi.
Dalam pengamalan tarekat ini sifatnya tidak mengekang pemeluknya. Setiap pemeluk tarekat ini (Syattariyah) memiliki kewajiban untuk melakukan dizikir dan wiridan. Karena dzikir dan wiridan sudah menjadi suatu kewajiban, maka tidak boleh tidak harus dilakukannya. Biasanya dzikir atau wiridan itu dilakukan setelah solat fardu. Dari sinilah ketika penganut tarekat tidak melakukan dzikir atau wiridan setelah solat fardu mereka masih boleh menyicilnya dalam kesempatan lain (Hal. 120).
Hidup bahagia tidak harus dengan harta yang melimpah. Terkadang seseorang salah persepsi bahwa dengan harta hidup manusia akan bahagia. Padahal ketika harta menumpuk pikiran malah tambah ruwet dan tak karuan. Dari sinilah kesadaran untuk hidup melalu dunia tarekat dilakukan oleh penduduk desa Kuanyar kecamatan Mayong Jepara Jawa Tengah. Di tengah himpitan ekonominya mereka masih merasakan hidup bahagia meski dengan harta yang apa adanya.
Lazimnya tulisan ini mengajak orang abangan untuk sadar diri agar beragama tidak tanggung-tanggung. Agama mengajarkan pemeluknya untuk melakukan kebaikan. Yang mana kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan orang lain menuju bahterah kebahagiaan hidup. Orang abangan tak lain merupakan mereka yang beragama namun mereka tidak melakukan perintah-perintah agama. misalkan orang islam yang tidak melakukan solat, zakat, dan puasa serta tidak menajalankan ibadah lain yang diajarkan agama (Hal. 67).
Di sini baru kita menemukan bahwa agama tidak memberikan efek baik dalam kehidupan manusia yang menganutnya. Yaitu tidak ada realisasi seperti yang dijanjikan oleh ajaran agama untuk hidup bahagia. Realisasi untuk hidup bahagia tidak akan didapt oleh orang abangan yang dirinya hanya mengaku beragama (Islam) namun tidak melakukan syariatnya. Setidaknya gambaran kehidupan penganut tarekat syattariyah dalam penelitian ini akan memberikan paradigma baru bagi penganut agama untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki.
Dunia tarekat yang identik dengan ritual dzikir atau wiridan tidak membatasi penganutnya untuk tidak bekerja. Karena di balik amalan-malan tarekat itu mereka masih memiliki kewajiban menghidupi keluarganya. Batasan dzikir atau wiridan tidak mengenal waktu dan tempat meski dalam kesibukan mengurus pertanian dan pedagang boleh dilakukan. Tidak harus formal di atas musolla atau masjid. Selain itu pula sebagai pengamal tarekat jangan hanya melakukan ibadah terus menerus tanpa mempedulikan anak dan istri atau sebaliknya (Hal. 155-158).
Substansinya ajaran tarekat dalam menggapai hidup bahagia yang dilakukan oleh masyarakat Kuanyar ini tidak melupakan hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan Hirizonal antar sesama manusia atau yang bersifat kemanusiaan dengan latar belakang budaya dan tradisi yang mendarah daging. Dari dua dimensi ini (vertikal-horizontal) maka kebahagiaan yang hakiki dengan mengamalkan ajaran agama (Islam) bisa digapai.
Melalui penelitian secara langsung terhadap para pelaku tarekat ini (tarekat Syattariyah di Kuanyar Mayong, Jepara, Jateng) Nur Syam menemukan hakikat dari ajaran tarekat yang benar-benar memberikan relung kehidupan yang membahagiakan bagi penganutnya yang mengamalkan. Penelitian ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan itu benar-benar dirasa oleh mereka yang mengamalkan ajaran agama. Dengan ulasan yang rinci dan padanan pitutur penganut tarekat ini sudah sangat jelas kebahagiaan yang mereka peroleh melalui ritual dzikir atau wiridan yang rutin setelah solat fardu dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang mengandung nilai-nilai dzikir.
* Peresensi adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Senin, 13 Mei 2013

Sains Dalam Al-qur`an

Teori Big Bang Tercantum Dalam Al-QuranAllah berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya : "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al-Anbiya' : 30)

Kata "ratq" yang di sini diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Teori Big Bang Tercantum Dalam Al-QuranMarilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah ("fataqa") satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi dialam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.


Read more: http://www.artikelislami.com/2010/06/teori-big-bang-tercantum-dalam-al-quran.html#ixzz2TEJ7ae8x

Hidup dan Keajaiban Cinta


Sebagaimana cinta, hidup harus diperjuangkan. Seberat dan sepelik apa pun, hidup harus diperjuangkan dan dipertahankan. Karena hidup adalah anugerah Tuhan agar kita senantiasa memanfaatkannya sebagaimana kodrat manusia.
Setidaknya itulah yang dirasakan Tio, tokoh utama dalam novel Solely You karya Guntur Alam. Rio harus berjuang menjalani masa-masa suram dalam hidupnya. Rio mengalami koma pasca kecelakaan setelah sebelumnya terkapar pingsan di bahu jalan.
Kejadian itu berawal dari pertengkaran antara Tio dan Via. Tio menuduh Via selingkuh dengan Dika, sahabat dekat Tio. Tio mendapat kabar itu dari Risya, bahwa Via dan Dika semakin dekat. Tapi, apa yang dikatakan Rafael membuat Tio sadar bahwa ia begitu cepat termakan hasutan Rysa. Entah apa maksud Rysa menghasut Tio. Tio juga tidak paham. Yang jelas Tio merasa bersalah telah membuat Via serbasalah dan merasa tidak dipercaya olehnya. Padahal, menurut Rafael, di mal Via dan Dika sedang mencari kado spesial untuk hari ulang tahun Tio.
Setelah pertengkaran di mal dan Tio menghajar Dika tanpa ampun, ia mendapat kabar bahwa Via akan berangkat ke Palembang. Pertengkarannya dengan Tio membuat Via ingin menenangkan diri di Palembang, rumah orangtuanya. Demi mengejar Via sebelum pesawat yang akan ditumpangi Via take off, Tio langsung memacu motornya dengan kecepatan yang tinggi, hingga tanpa sadar ia menabrak seorang pengemudi motor di perempatan jalan. Waktu itu Tio sudah tidak ingat apa-apa lagi. Benturan keras yang terjadi membuat Tio pingsan (halaman 12).
Orangtua Tio sangat sedih dengan kecelakaan yang menimpa anaknya. Selama tiga bulan Tio koma, keluarganya menjaganya di rumah sakit dengan penuh kesabaran. Hingga pada suatu hari, Tio sadar dari komanya. Tapi, sesuatu telah terjadi di luar dugaan Tio. Semua orang terdekatnya mengenalnya sebagai Fany, cewek yang ditabrak Tio. Tio pusing bukan main. Bahkan, orangtuanya pun mengenalnya sebagai Fany. Padahal, jelas-jelas ia adalah Tio, anak mereka yang selama tiga bulan ini mereka tunggui kesembuhannya dari koma. Apa yang terjadi? Benarkah jiwa Tio terperangkap dalam tubuh Fany?
Yang membuat Tio semakin tidak paham, di rumah sakit tempat ia dirawat orangtuanya masih menunggui sesosok tubuh yang terbujur koma. Dan, tubuh itu adalah tubuhnya sendiri. Ia dengan jelas melihat bagaimana kesedihan yang terjadi di antara keluarganya. Mereka tak pernah berhenti berdoa demi kesembuhan Tio. Mereka ingin Tio kembali sadar dan sembuh seperti sedia kala.
Akhirnya Tio mulai belajar menjalani hari-harinya sebagai seorang Fany, cewek ngetop yang selama ini banyak menghiasi layar kaca lewat iklan atau sinetron. Sungguh, Tio sangat risih ketika ia melihat wajahnya di depan cermin. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa dirinya adalah Tio. Tapi, kenapa semua orang memanggilnya Fany?
Yang sangat menyiksa, ketika ia harus ke sekolah. Ia harus berpenampilan sebagaimana Fany. Memakai rok dan harus tampak feminin. Tapi, ia sulit menyesuaikan diri. Tingkahnya masih jelas sebagai seorang laki-laki. Tak heran jika Kak Gigis, kakak Fany, mengatakan kalau adiknya agak tomboy sejak sadar pasca kecelakaan (halaman 53).
Yang paling parah, ketika Tio harus memotong rambut panjang Fany layaknya seorang laki-laki. Ibu Fany marah besar, karena beliau baru saja menandatangani kontrak baru dengan produk shampo. Produsen produk itu menginginkan Fany jadi bintang iklannya.
Tio merasa semakin asing dengan lingkungannya. Tidak hanya kamar Fany yang ditempatinya yang memang serba perempuan. Di sekolah pun ia tampak asing. Ia tidak kenal semua teman-teman Fany. Yang ia ingat justru teman-teman sekolahnya, terutama Via.
Akhirnya, Tio meminta Mama Fany untuk pindah sekolah. Rasa kangen membuat Tio harus segera mengambil tindakan. Ia tidak mau lama-lama terperangkap dalam tubuh Fany yang lama-lama bisa membuatnya gila itu. Semula Mama Fany menolak anaknya pindah sekolah, begitu juga Kak Gigis. Tapi, demi kebahagiaan anaknya, Mama Fany mengabulkan permintaan itu. Tio tentu sangat senang. Ia akan segera bergabung dengan teman-teman lamanya; Via, Dika, Rafael dan Tasya yang sangat kompak. Tio rindu masa-masa indah itu bersama teman-temannya (halaman 93).
Bagaimana tanggapan teman-temannya setelah Tio--yang selama ini terperangkap di dalam tubuh Fany--memutuskan pindah sekolah? Akankah Via dan teman-teman yang lain akan mengenalinya sebagai sosok Tio?
Tio tak sabar ingin segera menyapa mereka, meskipun semua tidak semudah yang ia bayangkan. Bagaimana jika mereka tidak mengenalinya? Bahkan, mereka lebih mengenalnya sebagai sosok Fany sang bintang terkenal itu?
Guntur Alam dalam novelnya kali ini menyajikan teka-teki yang membuat pembaca penasaran. Bagaimana sosok seseorang Tio yang koma itu “gentayangan” dan terperangkap dalam tubuh orang lain. Lewat novel ini pembaca akan bertualang menyelami kisah-kisah yang penuh perjuangan dan romantisme kehidupan remaja. Sebuah kisah yang tidak biasa, sangat beda dengan kisah-kisah roman remaja lainnya. Guntur berhasil memasukkan unsur-unsur misteri dan dunia psikologi dalam novelnya.
Berbeda dengan sastra koran yang selama ini ditulisnya, dalam novel ini Guntur berhasil memikat pembaca dengan bahasa dan diksi yang tidak klise. Ringan serta mudah dicerna sehingga membacanya kita tidak perlu mengerutkan kening. Satu-satunya yang membuat kita penasaran adalah konflik jiwa dalam kehidupan Tio.
Membaca novel 272 halaman ini akan menyadarkan kita bahwa perjuangan cinta dan hidup itu memang luar biasa. Kisah ini juga mengingatkan kita betapa berharganya sebuah kepercayaan dari orang-orang terdekat kita. Bahwa hal yang paling menyakitkan itu adalah ketika kita kehilangan kepercayaan dari orang yang kita sayangi.
*) Alumnus IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Editor :
Jodhi Yudono

Senin, 06 Mei 2013

History of Earth


Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah Bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. (QS Fushshilat: 53)
Melalui ayat ini kita mengetahui bahwa sesungguhnya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT sangat banyak terhampar di bumi ini. Bisa jadi kita tidak peduli dengan isi al-Qur’an karena memang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita bahwa al-Qur’an begitu luar biasa jika dilihat dari sudut pandang sains. Hal itu memang terjadi karena al-Qur’an memang mengandung makna sains masa depan yang belum terjangkau oleh tingkat intelektual manusia di zaman sekarang.
Seringkali kita bertanya kepada guru ketika duduk di bangku sekolah tentang keistimewaan dan uniknya planet kita ini. Namun, terkadang yang selalu dijawab oleh guru kita terkadang kurang memuaskan karena hanya berkisar pada hal-hal itu saja. Bumi adalah satu-satunya planet dalam tatasurya yang dapat dihuni oleh makhluk hidup. Tentu hal ini merupakan sebuah keistimewaan untuk planet biru kita.
Kita semua sudah mengetahui bahwa jika kita mencoba membandingkan bumi dengan semua tempat di alam semesta ini, takkan ada yang sebanding dengan planet biru nan indah ini. Kita hidup dalam sebuah lingkungan istimewa yang selalu menyediakan apa yang kita butuhkan. Semua keluarbiasaan ini adalah hasil dari proses panjang bumi itu sendiri. Mengapa ini semua bisa terjadi? Apakah hanya kebetulan? Ataukah bumi telah memenangkan ‘undian semesta’ yang membuat dirinya semakin cantik dan indah?
Sejauh ini, para ilmuwan sains telah banyak melakukan penelitian rumit nan panjang untuk menemukan planet yang bisa ditempati oleh manusia dalam semesta ini. Namun hasilnya, di antara jutaan bahkan triliunan planet dalam galaksi kita belum ditemukan planet lain yang benar-benar mirip dengan Bumi. (hlm. 30)
Pernahkah kita terbesit untuk bertanya tentang ‘air’ yang begitu melimpah di bumi. Dari mana asalnya? Apakah dia tersusun? Pada kenyataannya air inilah yang telah membuat semua kehidupan di bumi menjadi hidup. Kita hanya mengetahui bahwa ia salah satu produk ciptaan-Nya yang telah menguasai tiga perempat daratan bumi.
Tahukah Anda bahwa air dapat merespons pesan yang disampaikan manusia? Jika positif, maka kristal air tersebut akan berkembang dan semakin indah, tentunya juga semakin bermanfaat bagi kesehatan. Jika negatif, tidak lama kristal air tersebut akan menyusut dan seakan-akan langsung membusuk.
Sungguh ironis dan tidak masuk akal jika ada yang mengatakan bulan pernah terbelah kemudian menyatu kembali. Mungkin kita tidak akan mendengarkan celotehannya dan langsung pergi tanpa memperdulikan dia. Namun memang inilah yang terjadi, para ilmuwan telah membuktikannya melalui bebatuan bulan yang dibawa ketika Neil Armstrong dan Edwin Aldrin menginjakkan kaki mereka disana.
Lebih mengejutkan lagi dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa Rasulullah pernah menunjukkan kemukjizatannya kepada orang-orang kafir. Beliau menunjuk bulan sehingga bulan tampak terbelah kemudian menyatu kembali dengan izin-Nya. Kejadian ini terjadi beratus-ratus tahun lalu, dan telah dimuat dalam kitab-kitab klasik. Mungkin inilah yang membuat sang ilmuwan NASA itu takjub kemudian memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Khalifa. (hlm. 63)
Di dalam buku ini dijelaskan betapa panjangnya kisah hidup si Bumi, serta keistimewaan-keistimewaannya atas semua planet-planet yang ada di tata surya ini. Disertai dengan bukti-bukti ilmiah serta dalil-dalil yang didukung oleh Al-Qur’an. Mukjizat-mukjizat masa lalu yang pernah diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW pun akan diungkap dengan jelas dalam buku ini.
Buku yang bercerita tentang Planet Bumi mulai dari sejak penciptaannya hingga mencapai keadaan seperti sekarang ini sangatlah menarik untuk dibaca sebagai tahap awal untuk kita mengetahui betapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi ini, sehingga memancing kita untuk selalu mencari tahu, dan betapa besar nikmat yang telah diberikan oleh-Nya yang merupakan kewjiban kita untuk tetap menjaga dan merawatnya.
Dalam menulis buku ini, Agus Haryo Sudarmojo menggunakan gaya bahasa sains populer yang sangat mudah untuk dipahami walau oleh orang awam sekalipun. Sang penulis bukanlah seorang yang ahli dalam hal agama. Namun, hanya seorang yang memberanikan diri untuk melihat ayat-ayat Al-Qur’an dari sudut pandang yang sedikit berbeda dan juga gemar mengupas makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadits.
Data Buku
Judul: History of Earth
Penulis: Agus Haryo Sudarmojo
Penerbit: Bunyan (PT Bentang Pustaka), Yogyakarta
terbit: Cetakan I, Maret 2013
Tebal: 218 halaman
ISBN: 978-602-7888-18-0

Seks dan Masa Depan


Pelecehan seksual sepertinya semakin sulit untuk dikendalikan. Setiap hari ada saja berita yang membuat air mata menetes dan dahi berkerut. Sementara bicara tentang seks, meski mendidik tetap dianggap tabu. Untuk mengakui kita menghadapi masalah seks yang memprihatinkan pun sulit. Bagaimana nasib masa depan?
Tidak bisa dimungkiri bahwa kata "seks" saja sudah bisa membawa pikiran dan khayalan seseorang ke mana-mana. Cenderung ke arah porno dan hanyut larut dalam nafsu kebinatangannya. Maklum saja karena seks masih dijadikan sebagai obyek yang tabu, kotor, porno, amoral, asusila, dan segala perbuatan maksiat yang menjerumuskan. Padahal kita semua menyadari bahwa seks itu diberikan oleh Sang Pencipta sebagai anugerah yang seharusnya bisa dipandang secara positif bila seka itu dijadikan subjek.
Seks sendiri  merupakan ilmu pengetahuan yang sangat mendidik. Mempelajari organ seks, perilaku seks, dan seks semua makhluk hidup mampu membuat manusia tercengang dan terpana. Betapa tidak? Sehebat-hebatnya manusia, hingga saat ini belum ada satu manusia pun yang membuat sperma dan sel telur. Bahkan tak mampu juga menduplikasikannya. Lantas, mengapa sulit sekali bagi manusia untuk melihatnya sebagai kebesaran Ilahi?
Menjadikan seks sebagai objek pemikiran negatif sudah membuktikan bahwa kita belum mampu menghormati dan menghargai apa yang sudah diberikan oleh-Nya. Kesalahan ini tidak juga mau diakui, sehingga tidak heran bila pemikiran kotor dan negatif terus berkembang. Masalah yang berhubungan dengan seks semakin sulit untuk diatasi dan dibenahi.
Ketabuan atas seks itu sendiri berawal dari kesakralan seks. Dibutuhkan kematangan, kedewasaan, jiwa besar, dan nalar yang tinggi untuk mampu mempelajari seks tanpa berpikir negatif, sehingga tabu dipelajari bagi yang tak mampu. Kesulitan inilah yang membuat pengetahuan seks menjadi tertutup karena memang ditutupi. Seiring perjalanan waktu, justru tabulah yang kemudian menjadi subjek dan seks adalah objeknya. Apa mau dikata, mungkin orang dulu sudah berpikir jauh ke depan. Seleksi alam berdasarkan kemampuan manusia di dalam berpikir jernih semakin menurun, sehingga tidak pantas mempelajari seks. Mereka yang berpikiran kotor tentang seks tidak akan mampu mempelajari dan mengerti tentang seks dengan baik dan benar.
Sebagai salah satu contohnya adalah pemikiran tentang kondom. Kondom dianggap penyebab perilaku seks bebas dan menjerumuskan. Bila kita mau melihatnya lebih jauh lagi, kondom merupakan benda mati. Kondom adalah alat kontrasepsi dan pencega penularan penyakit kelamin yang berbahaya, termasuk HIV dan AIDS. Pengguna kondom sendiri, di Indonesia masih sangat minim, sekitar 5% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Sementara pelaku seks bebas jumlahnya apakah sama dengan pengguna kondom atau kurang? Pertumbuhan HIV AIDS di Indonesia pada generasi muda saja sudah mencapai angka 600 persen per tahun, siapakah yang mampu berpikir dan memutuskan untuk melakukan seks bebas? Ingat, kondom tak mampu berpikir, tetapi manusia mampu. Kondom bisa menjadi apa saja, tergantung kepada niat dan tujuan penggunanya sendiri.
Kasus pemerkosaan  dan pelecehan seksual juga sering dikaitkan dengan film porno. Film porno diaalahkan dan diruding menjadi penyebab utama dan biang keladinya. Menurut penelitian sebuah media international disebutkan bahwa pecandu film porno di. Indonesia berjumlah 38 persen dari jumlah penduduk pria. Apakah jumlah pemerkosa di Indonesia sama dengan jumlah pecandu film porno tersebut? Jika seseorang mampu mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan kejahatan seks, maka kenapa ada yang tidak mampu? Tentunya banyak alasan lain seperti faktor psikologis, kesehatan jiwa, pendidikan, ekonomi,  lingkungan, dan lain sebagainya yang mempengaruhi. Tidak hanya semerta-merta seseorang bisa melakukan kejahatan seksual hanya karena menonton film porno. Memicu, bisa jadi, tetapi bukan penyebab utama dan biang keladinya.
Pelacuran pun banyak yang ditutup dengan berbagai alasannya. Tidak juga mau mengakui betapa sulitnya menghapus pekerjaan tertua di muka bumi ini. Menutup pelacuran tidak kemudian pasti bisa menghapuskan dunia hitam itu, apakah ada yang berani menjamin? Jika memang dijamin tidak ada, maka untuk apa penjaringan atas Pekerja Seks Komersial di jalanan dan tempat-tempat lain masih terus saja dilakukan? Apakah jumlah yang tertangkap dan tercatat lebih berkurang sejak ditutupnya tempat pelacuran? Para sukarelawan yang biasanya mudah mendata dan memberikan penyuluhan serta memberikan obat-obatan untuk mencegah penyebaran penyakit pun semakin kesulitan.
Anehnya lagi, masalah penanganan soal pelacuran ini hanya difokuskan kepada para PSK-nya saja, para "klien" mereka lebih bebas berkeliaran. Padahal, mereka itulah yang lebih berbahaya karena bisa membawa penyakit ke rumah dan menyebarkannya ke yang lain. Belum lagi perilaku masyarakat yang saat ini melakukan seks bebas di mana-mana, tanpa ikatan, tanpa komitmen, tanpa cinta, hanya untuk seks semata. Plus ditambah dengan seks di dunia maya dan dalam lingkungan kerja, yang tidak juga mau diakui sebagai masalah. Demi pulsa, makan siang, merasakan tidur di hotel, dapat proyek, bergaul dengan kalangan tertentu, ikut trend, gaya hidup dan lain sebagainya, seseorang bisa merendahkan dirinya, tapi tetap tak mau dianggap rendah. Banyak sekali alasan-alasannya.
Menuding, memaki, marah-marah, mengucilkan, dan menghina jauh lebih mudah dibandingkan dengan mau turun langsung menekuni dan berkutat dalam menyelesaikan masalah ini. Untuk mau menyentuh dan merangkul orang-orang yang sudah dianggap hina dan sampah oleh masyarakat saja tak mau. Lebih memilih tetap bersih dan cuci tangan, merendahkan yang lain untuk ditinggikan, itu sudah biasa, kan?! Apa yang diketahui juga hanya sekedar omong-omong bukan hasil dari penelitian langsung, sehingga sebetulnya apa yang diketahui, sih?! Membersihkan rumah yang sudah bersih maka tak ada guna, beranikah membersihkan langsung rumah yang kotor tanpa banyak omong-omong belaka?! Jiwa besar, kesabaran, ketekunan, kedisplinan, dan mau terus berpikir lebih jauh itu mutlak, jauh lebih sulit dari sekedar omong-omong.
Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak pernah bersalah dan siapa yang bisa memastikan lebih berdosa atau tidak?! Derajat manusia di mata Tuhan pun sama, tidak ada yang lebih hina. Manusianya saja yang merasa lebih dari yang lain dan berlaku sudah melebihi Tuhan serta merasa sudah menjadi malaikat tanpa dosa. Mengakui salah saja tidak berani?! Maunya menutupi kesalahan saja terus, sementara kesadaran bahwa kemunafikan itu adalah sebuah perbuatan yang paling dibenci tetap ada. Berpikir positif tentang seks juga tidak memiliki keberanian. Lebih takut dengan cemooh dari masyarakat dan kebanyakan orang dibandingkan menghormati dan menghargai anugerah dari-Nya. Lantas, untuk apa mengaku baik bila menjadi lebih baik dan melakukan yang lebih baik saja tak mau?!
Bicara tentang seks bukan hanya sekedar bicara soal tempat tidur. Membicarakan seks dengan menjadikannya sebagai subjek akan memperluas wawasan dan mendewasakan diri.  Untuk membantu langsung menangani masalah kejahatan seksual barangkali sulit, tetapi kita bisa membantu. Sekecil-kecilnya bantuan akan sangat berharga meski hanya dengan mengubah pola pikir dengan menjadikan seks sebagai subjek. Menghormati dan menghargai seks sebagai anugerah dengan tidak merendahkan, melecehkan, ataupun menghinakannya. Tidak perlu menunjuk jari, tapi lakukanlah dari, oleh, dan untuk diri sendiri. Pikirkanlah masa depan.
Editor :
Jodhi Yudono

Kamis, 18 April 2013

Izinkan Aku Menjadi Presiden Sekali lagi


“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Teriakan mendukung Paduka Yang Mulia Tuan Presiden terus diteriakkan para pendukung setianya (katanya sih setia).  Sedianya Tuan Presiden akan berkampanye untuk mencalonkan diri (lagi) sebagai presiden dalam pemilihan umum yang akan datang.
Katanya untuk melanjutkan program pembangunan yang telah dijalankan.  Katanya ingin mengentaskan kemiskinan, padahal yang harus dientaskan seharusnya adalah orang-orang miskin bukan kemiskinan.  Katanya ingin mengantarkan negara tinggal landas atau malah tinggal kandas dalam menghadapi era persaingan bebas.  Wuih, ngeri kan?
Juga tentunya melanjutkan program memperkaya keuangan pribadi.  Memperkaya pundi-pundi tabungan keluarga, sahabat, kerabat, kolega dan semua orang yang mau menjilat Paduka Yang Mulia Tuan Presiden.
Panggung dan mimbar untuk berkampanye pun telah disediakan.  Luasnya mencapai 10 meter kali 20 meter.  Panggung luas untuk menggambarkan kemegahan, kejayaan dan kedigdayaan Paduka Yang Mulia Tuan Presiden.  Sound system sengaja dipesan dari luar negeri supaya saat Paduka Yang Mulia Tuan Presiden bisa berpidato dan mengumbar-umbar janji membuai rakyat dengan megahnya.  Ya kalau bisa mirip konser Rolling Stone atau U 2 yang selalu menggelegar.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Kata-kata itu masih diteriakkan massa yang menunggu kedatangan pemimpin sejati mereka.  Pemimpin sejati yang benar-benar mereka dambakan selama ini.  Pemimpin yang (katanya) mengerti tentang keadaan nasib para orang kecil yang tertindas dan terpinggirkan.  Pemimpin yang (katanya) bakal membawa bangsa ini untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.  Pemimpin yang (katanya) dipilih dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Massa masih saja berteriak meski panas matahari memanggang mereka.  Kerongkongan yang kering tak menghalangi niat untuk menghadiri acara ini, mendengarkan pidato kampanye Tuan Presiden.  Bermandikan keringat, orang-orang masih meneriakkan dukungan buat Tuan Presiden, masih mengibarkan bendera-bendera partai, masih membawa spanduk-spanduk, masih memakai atribut partai.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Menjelang tengah hari, diberitahukan kalau Tuan Presiden telah tiba di lokasi.  Massa pun makin keras meneriakkan dukungan bagi Tuan Presiden tak peduli panas makin meranggas.  Pokoknya harus mendengarkan pidato Paduka Yang Mulia Tuan Presiden.
Panggung tiba-tiba disesaki para pengawal Tuan Presiden yang berseragam jas hitam.  Men in black.  Ya mirip dengan pasukan Secret Service yang biasa mengawal Presiden Amerika Serikat.
Semua memeriksa sekeliling, siapa tahu ada yang iseng menaruh bom atau malah ada sniper alias penembak jitu yang usil ingin menembak Tuan Presiden.  Lagi pula sudah banyak pemimpin negara yang mati konyol yang ditembak orang tak dikenal.  Seperti Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy yang mati ditembak saat berpawai di Texas.  Presiden Mesir, Anwar Sadat juga koit ditembak anggota pasukan militernya.  Nah, begitu juga dengan Perdana Menteri India Indira Gandhi yang tewas ditembak pengawal pribadinya.  Bahkan, putra kesayangan Indira, Rajiv Gandhi malah mati dibom oleh militan.  Para pengawal Tuan Presiden enggak mau dong kalau hal serupa juga terjadi di sini.
Selain ancaman yang  canggih tadi, siapa tahu ada gangguan-gangguan kecil lainnya.  Seperti mungkin ada pendukung partai lain yang ikut hadir menyelinap di antara kerumunan massa dan kemudian iseng melemparkan sandal jepit.  Siapa tahu enggak puas dengan kebijakan Tuan Presiden selama ini makanya melemparkan sandal jepit atau apa saja yang dirasa bisa dilempar!
Setelah dirasa aman, keluar Tuan Presiden untuk tampil di atas panggung.  Teriakan pun makin menggema.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Tuan Presiden melambaikan tangannya kepada para pendukung setianya.  Sesekali ia merentangkan kedua tangannya atau malah mengepalkan tinjunya ke udara.  Massa pun mengikuti gerakan Tuan Presiden dengan mengepalkan tinju ke udara sambil berteriak, juga melompat-lompat.
Massa tiba-tiba tenang ketika Tuan Presiden memberikan tanda.  Gemuruh suara tiba-tiba berubah senyap.
“Rakyatku, massa setiaku, pendukungku, konstituenku!” teriak Tuan Presiden dengan lantang.
Massa mendengarkan dengan saksama dan dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya.  Seraya mendengarkan, massa mengibarkan bendera dan atribut partai lainnya.
“Rakyatku, pendukungku.  Hari ini kampanye nasional untuk pemilihan presiden dan wakil presiden akan dimulai serentak di penjuru negeri.  Hari ini, di tempat ini, di hadapan kalian sebagai saksi, saya akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden empat tahun mendatang!”
Seperti ada yang memberikan komando, serentak massa kembali berteriak-teriak.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
“Saya akan meneruskan pembangunan yang telah saya lakukan empat periode sebelumnya.  Saya terus lanjutkan hingga negeri makmur, aman, damai sejahtera!”
Massa kembali berteriak.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Tuan Presiden merasa di atas angin.  Ia merasa akan terpilih kembali.  Sederetan orang setia Tuan Presiden juga terlihat senang dengan massa yang terlihat antusias mendukung kampanye ini.
Sudah jelas sangat antusias lantaran setiap orang alias perkepala akan mendapatkan lima puluh ribu rupiah, sebungkus nasi warteg, air mineral, kaus bertuliskan partai, topi, payung dan lain sebagainya.  Kebanyakan dari massa yang penganggur, setengah penganggur, ibu rumah tangga, dan wong ciliklainnya sudah pasti tidak keberatan untuk sekadar tampil seharian di lapangan terbuka yang panas dan kemudian meneriakkan dukungan kepada Tuan Presiden.
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Teriakan terus menggema di seantero lapangan.  Tuan Presiden masih menikmati teriakan yang mengelu-elukan dirinya.  Begitu juga dengan orang-orang setia Tuan Presiden.
Tuan Presiden memberikan tanda kepada massa agar kembali tenang.  Tuan Presiden ingin kembali melanjutkan pidatonya.
“Saya sangat senang dengan dukungan yang kalian berikan!  Saya sungguh terharu.  Saya tidak mengira kalau sambutan kalian kepada saya sungguh luar biasa.  Saya tidak menyangka kalau cinta kalian kepada pemimpinnya begitu besar!  Saya sungguh terharu.  Saya sangat bersyukur diberikan pendukung yang sangat setia.”
Massa masih mendengarkan dengan setia pidato dari Tuan Presiden.  Mentari memanggang mereka semua yang hadir di lapangan dengan begitu sempurna.  Sebentar lagi semua yang hadir akan garing seperti kerupuk.
“Saya yakin kalau dengan restu dan dukungan dari kalian semua, saya akan kembali menjabat sebagai Presiden.  Saya juga yakin kalau partai kesayangan kita akan menjadi partai yang terus berkuasa di negeri ini!”
“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”
Teriakan-teriakan kembali menggema di seantero lapangan yang disesaki massa pendukung (yang kata setianya) kepada Tuan Presiden.
Tuan Presiden semakin senang melihat massa yang terlihat antusias.  Begitu juga dengan orang-orang terdekat Tuan Presiden.  Sementara para pengawal Tuan Presiden alis men in black semakin terlihat waspada.  Lihat kanan kiri.  Lirik atas bawah.  Tengok depan belakang.  Siapa tahu ada yang mau mencelakakan Tuan Presiden.
“Kalian ingin saya jadi Presiden lagi?”
“Sudah pasti!  Tentu!”
“Kalian ingin saya meneruskan pembangunan?”
“Tentu!  Kami tidak keberatan!”
“Kalian ingin maju bersama saya?  Bukan dengan kandidat lain?”
“Tentu!  Sudah pasti!”
“Kalian ingin terus berjuang bersama partai saya?”
“Pasti!  Tentu!”
Tuan Presiden semakin riang melihat massa semakin antusias.  Orang-orang partai juga puas.  Massa yang mereka mobilisasi ternyata patuh dengan baik.
Panas semakin meranggas.  Sinar mentari membakar kulit.  Warna kulit massa kini semakin gosong.  Tetapi mereka belum beranjak karena belum mendapatkan sajian utama : hiburan pentas dangdut,makan siang dan uang limapuluh ribuan.
Tuan Presiden dan rombongan juga kepanasan.  Atap panggung tidak cukup sakti menahan sinar dan udara yang sangat panas.  Tetapi mereka juga belum beranjak karena masih menikmati puasnya dielu-elukan massa pendukung setia.
Sesaat Tuan Presiden ingin melanjutkan pidato, tiga biduan cantik dengan baju macan tampak bersiap diri menuju panggung.  Beberapa orang yang melihat langsung antusias.  Ternyata hiburan dangdutnya adalah tiga penyanyi tersohor yang suka memakai baju minim saat pentas.  Dari segelintir orang menyebarkan kabar ke sebelahnya, ke belakang, ke depan, dan ramailah massa kalau tiga penyanyi dangdut sensual akan segera tampil.  Padahal pidato Tuan Presiden belumlah usai.
“Rakyatku!”
“Dangdut!  Dangdut!  Dangdut!”
“Rakyatku!  Apakah kalian...?”
“Dangdut!  Dangdut!  Dangdut!”
Teriakan ingin hiburan menggema!
Tuan Presiden mutung dibuatnya.  Mendadak seorang penasihat politik Presiden berbisik ke arah Tuan Presiden.
“Rakyatku semua!  Sudah saatnya saya membalas budi kalian dengan suguhan hiburan!  Tiga penyanyi cantik akan menghibur kalian semua!  Sambutlah dengan meriah!”
Massa langsung menyambut dengan antusias ketiga penyanyi sensual itu dan melupakan sejenak pidato Tuan Presiden yang sejatinya belum selesai.  Mereka tidak lagi peduli!  Yang mereka inginkan di tengah terik mentari adalah sedikit goyangan hot dan kalau perlu tidak lagi mengindahkan norma kesopanan.
Tuan Presiden bergegas menuju ke arah panggung didampingi para anggota staf dan asisten pribadinya plus para pengawal.
“Sialan!  Aku belum selesai berpidato, mereka malah minta dangdut!  Tidak hormat sama Presiden!” umpat Tuan Presiden.
“Sabar, pak!  Kita berikan saja apa yang mereka mau!  Toh mereka hanya meminta dangdut.  Lantas setelah itu dengan makan siang dan sedikit uang, mereka bisa ditenangkan.  Massa negeri ini mudah ditebak, Bapak Presiden!” ujar penasihat politik senior Tuan Presiden.
“Hmm, benar juga!  Kita tinggalkan saja tempat ini.  Panas sekali!  Bisa-bisa nanti kita garing seperti ikan asin!”
Rombongan Tuan Presiden segera meninggalkan arena kampanye.  Massa tidak peduli.  Mereka tengah tenggelam dalam goyangan hot tiga biduan dangdut.
Satu jam berlalu.
Tidak ada lagi goyangan hot di atas panggung.  Massa juga sudah pulang membawa nasi bungkus dan selembar uang lima puluh ribuan.  Mereka senang.  Begitu juga dengan ketiga penyanyi dangdut yang akan menerima bayaran sangat besar selama masa kampanye.  Tidak ketinggalan Tuan Presiden yang kini sudah berada di kediamannya, sangat senang bisa dielu-elukan massanya.
Tidak ada yang tersisa di lapangan ini, kecuali sebuah panggung besar tempat Tuan Presiden berkampanye, tempat ketiga biduan dangdut melenggak-lenggokan tubuh sensualnya.
Tidak ada yang tampak lagi di sini, kecuali beberapa orang pemulung yang tampak senang dengan sisa-sisa sampah.  Ada topi, kaus, atribut lainnya, minuman yang tertinggal dan masih penuh, beberapa bungkus nasi yang ditinggal begitu saja dan masih bisa dimakan, masih banyak lagi termasuk ribuanbanner dan spanduk bertuliskan “Izinkan Aku Menjadi Presiden Sekali Lagi!”
Semuanya kini hanya menjadi sampah!
Jakarta, 23 Januari 2003 – 20 Februari 2006 – 15 Maret 2007
Dodiek Adyttya Dwiwanto.  Lulusan Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada.  Tulisan-tulisannya seperti cerita pendek, resensi buku, dan artikel sepak bola dimuat di sejumlah media cetak nasional.  Saat ini, bekerja sebagai humas di sebuah perusahaan, selain juga menjadi kolumnis sepak bola di sebuah media cetak nasional.